Penulis Topik: DZIKIR & WIRID Penenang HATI  (Dibaca 7270 kali)

halim

  • Tetamu
DZIKIR & WIRID Penenang HATI
« pada: Januari 06, 2011, 12:54:11 pm »
DZIKIR & WIRID Penenang HATI,
Yang Sunnah, Yang Bid'ah dan Yang SYIRIK


Seiring dengan makin jauhnya zaman dari masa kenabian shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka semakin banyak pula kesesatan dan bid’ah yang tersebar di tengah kaum muslimin[1], sehingga indahnya sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kebenaran makin asing dalam pandangan mereka. Bahkan lebih dari  itu, mereka menganggap perbuatan-perbuatan bid’ah yang telah tersebar  sebagai kebenaran yang tidak boleh ditinggalkan, dan sebaliknya jika ada  sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dihidupkan dan diamalkan kembali, mereka akan mengingkarinya dan memandangnya sebagai perbuatan buruk.

Sahabat yang mulia, Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh  perbuatan-perbuatan bid’ah akan bermunculan (di akhir jaman) sehingga  kebenaran (sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)  tidak lagi terlihat kecuali (sangat sedikit) seperti cahaya yang  (tampak) dari celah kedua batu (yang sempit) ini. Demi Allah, sungguh  perbuatan-perbuatan bid’ah akan tersebar (di tengah kaum muslimin),  sampai-sampai jika sebagian dari perbuatan bid’ah tersebut ditinggalkan,  orang-orang akan mengatakan: sunnah (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah ditinggalkan.”[2]

Keadaan ini semakin diperparah kerusakannya dengan keberadaan para tokoh penyeru bid’ah dan kesesatan, yang untuk mempromosikan dagangan bid’ah, mereka tidak segan-segan memberikan iming-iming janji keutamaan  dan pahala besar bagi orang-orang yang mengamalkan ajaran bid’ah  tersebut.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau pada saat ini tidak  sedikit kaum muslimin yang terpengaruh dengan propaganda tersebut,  sehingga banyak di antara mereka yang lebih giat dan semangat  mengamalkan berbagai bentuk zikir, wirid maupun shalawat bid’ah  yang diajarkan para tokoh tersebut daripada mempelajari dan mengerjakan  amalan yang bersumber dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum.

Tentu saja ini termasuk tipu daya setan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lurus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ  نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى  بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh,  yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, yang  mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah  untuk menipu (manusia)” (Qs. al-An’am: 112).

Bahkan, setan berusaha menghiasi perbuatan-perbuatan bid’ah dan sesat  tersebut sehingga terlihat indah dan baik di mata manusia, dengan  mengesankan bahwa dengan mengerjakan amalan bid’ah tersebut hati menjadi  tenang dan semua kesusahan yang dihadapi akan teratasi (??!!).  Pernyataan-pernyataan seperti ini sangat sering terdengar dari para  pengikut ajaran-ajaran bid’ah tersebut, sebagai bukti kuatnya cengkraman  tipu daya setan dalam diri mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Apakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan)  lalu ia menganggap perbuatannya itu baik, (sama dengan dengan orang yang  tidak diperdaya setan?), maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang  dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (Qs. Faathir:8 ).

Sumber ketenangan dan penghilang kesusahan yang hakiki

Setiap orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib meyakini, bahwa sumber ketenangan jiwa dan ketentraman hati yang hakiki adalah dengan berzikir kepada kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, membaca al-Qur’an, berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang maha Indah, dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan  berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati  menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Artinya dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala kegalauan dan kegundahan dalam hati mereka akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan[3].

Bahkan, tidak ada sesuatupun yang lebih besar mendatangkan  ketentraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berzikir kepada  Allah Subhanahu wa Ta’ala [4].

Salah seorang ulama salaf berkata, “Sungguh kasihan orang-orang yang  cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal  mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini.” maka  ada yang bertanya, “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?”  Ulama ini menjawab, “Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika  mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta  merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.”[5]

Inilah makna ucapan yang masyhur dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –  semoga Allah U merahmatinya –, “Sesungguhnya di dunia ini ada jannnah  (surga), barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini maka  dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti.”[6]

Makna “surga di dunia” dalam ucapan beliau ini adalah kecintaan (yang utuh) dan ma’rifah (pengetahuan yang sempurna) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (dengan memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan cara baik dan  benar) serta selalu berzikir kepada-Nya, yang dibarengi dengan perasaan  tenang dan damai (ketika mendekatkan diri) kepada-Nya, serta selalu  mentauhidkan (mengesakan)-Nya dalam kecintaan, rasa takut, berharap,  bertawakkal (berserah diri) dan bermuamalah, dengan menjadikan  (kecintaan dan keridhaan) Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya yang mengisi dan menguasai pikiran, tekad dan kehendak  seorang hamba. Inilah kenikmatan di dunia yang tiada bandingannya yang  sekaligus merupakan qurratul ‘ain (penyejuk dan penyenang hati) bagi orang-orang yang mencintai dan mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala [7].

Demikian pula jalan keluar dan penyelesaian terbaik dari semua  masalah yang di hadapi seorang manusia adalah dengan bertakwa kepada  Allah U, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan  memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya),  dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. ath-Thalaaq: 2-3).

Ketakwaan yang sempurna kepada Allah tidak mungkin dicapai kecuali  dengan menegakkan semua amal ibadah, serta menjauhi semua perbuatan yang  diharamkan dan dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.[8]

Dalam ayat berikutnya Allah berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.” (Qs. ath-Thalaaq: 4 ).

Artinya: Allah akan meringankan dan memudahkan (semua) urusannya,  serta menjadikan baginya jalan keluar dan solusi yang segera  (menyelesaikan masalah yang dihadapinya).[9]

Adapun semua bentuk zikir, wirid maupun shalawat yang tidak bersumber dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,  meskipun banyak tersebar di masyarakat muslim, maka semua itu adalah  amalan buruk dan tidak mungkin akan mendatangkan ketenangan yang hakiki  bagi hati dan jiwa manusia, apalagi menjadi sumber penghilang kesusahan  mereka. Karena, semua perbuatan tersebut termasuk bid’ah[10] yang jelas-jelas telah diperingatkan keburukannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya  semua perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah  sesat, dan semua yang sesat (tempatnya) dalam neraka.”[11]

Hanya amalan ibadah yang bersumber dari petunjuk al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa membersihkan hati dan mensucikan jiwa manusia dari noda dosa  dan maksiat yang mengotorinya, yang dengan itulah hati dan jiwa manusia  akan merasakan ketenangan dan ketentraman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى  الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو  عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ  وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

“Sungguh, Allah telah memberi karunia (yang besar) kepada  orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang  Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka  ayat-ayat Allah, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka  al-Kitab (al-Qur-an) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya  sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang  nyata.” (Qs. Ali ‘Imraan: 164).

Makna firman-Nya “menyucikan (jiwa) mereka” adalah  membersihkan mereka dari keburukan akhlak, kotoran jiwa dan  perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari  kegelapan-kegelapan menuju cahaya (hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala).[12]

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ  جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ  وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari  Rabbmu (al-Qur’an) dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati  manusia), dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Yuunus: 57).

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan perumpaan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang beliau bawa seperti hujan baik yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan dari langit, karena hujan yang turun akan menghidupkan dan menyegarkan tanah yang kering, sebagaimana petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghidupkan dan menentramkan hati manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya  perumpaan bagi petunjuk dan ilmu yang Allah wahyukan kepadaku adalah  seperti air hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi…“[13]
Ketenangan batin yang palsu

Kalau ada yang berkata, “Realitanya di lapangan banyak kita dapati  orang-orang yang mengaku merasakan ketenangan dan ketentraman batin (?)  setelah mengamalkan zikir-zikir, wirid-wirid dan shalawat-shalawat  bid’ah lainnya.”

Jawabannya: Kenyataan tersebut di atas tidak semua bisa diingkari,  meskipun tidak semua juga bisa dibenarkan, karena tidak sedikit  kebohongan yang dilakukan oleh para penggemar zikir-zikir/wirid-wirid  bid’ah tersebut untuk melariskan dagangan bid’ah mereka.

Kalaupun pada kenyataannya ada yang benar-benar merasakan hal  tersebut di atas, maka dapat dipastikan bahwa itu adalah ketenangan  batin yang palsu dan semu, karena berasal dari tipu daya setan dan tidak  bersumber dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan, ini termasuk perangkap setan dengan menghiasi amalan buruk agar telihat indah di mata manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Apakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan)  lalu ia menganggap perbuatannya itu baik, (sama dengan dengan orang yang  tidak diperdaya setan?), maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang  dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. Faathir: 8 ).

Artinya: setan menghiasi perbuatan mereka yang buruk dan rusak, serta mengesankannya baik dalam pandangan mata mereka.[14]

Dalam ayat lain Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ  وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh,  yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, yang  mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah  untuk menipu (manusia).” (Qs. al-An’aam: 112).

Artinya: para setan menghiasi amalan-amalan buruk bagi manusia untuk menipu dan memperdaya mereka.[15]

Demikianlah gambaran ketenangan batin palsu yang dirasakan oleh  orang-orang yang mengamalkan zikir-zikir/wirid-wirid bid’ah, yang pada  hakikatnya bukan ketenangan batin, tapi merupakan tipu daya setan untuk  menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan mengesankan pada mereka bahwa perbuatan-perbuatan tersebut baik dan mendatangkan ketentraman batin.

Bahkan, sebagian mereka mengaku merasakan kekhusyuan hati yang  mendalam ketika membaca zikir-zikir/wirid-wirid bid’ah tersebut melebihi  apa yang mereka rasakan ketika membaca dan mengamalkan  zikir-zikir/wirid-wirid yang bersumber dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Padahal, semua ini justru merupakan bukti nyata kuatnya kedudukan dan  tipu daya setan bersarang dalam diri mereka. Karena, bagaimana mungkin  setan akan membiarkan manusia merasakan ketenangan iman dan tidak  membisikkan was-was dalam hatinya?

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah membuat perumpaan hal ini[16] dengan seorang pencuri yang ingin mengambil harta orang. Manakah yang  akan selalu diintai dan didatangi oleh pencuri tersebut: rumah yang  berisi harta dan perhiasan yang melimpah atau rumah yang kosong  melompong bahkan telah rusak?

Jawabnya: jelas rumah pertama yang akan ditujunya, karena rumah  itulah yang bisa dicuri harta bendanya. Adapun rumah yang pertama, maka  akan “aman” dari gangguannya karena tidak ada hartanya, bahkan mungkin  rumah tersebut merupakan lokasi yang strategis untuk dijadikan tempat  tinggal dan sarangnya.

Demikinlah keadaan hati manusia, hati yang dipenuhi tauhid dan keimanan yang kokoh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,  karena selalu mengamalkan petunjuk-Nya, akan selalu diintai dan digoda  setan untuk dicuri keimanannya, sebagaiamana rumah yang berisi harta  akan selalu diintai dan didatangi pencuri.

Oleh karena itu, dalam sebuah hadits shahih, ketika salah seorang sahabat radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku membisikkan (dalam) diriku dengan  sesuatu (yang buruk dari godaan setan), yang sungguh jika aku jatuh dari  langit (ke bumi) lebih aku sukai dari pada mengucapkan/melakukan  keburukan tersebut.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah  Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, segala puji bagi Allah  yang telah menolak tipu daya setan menjadi was-was (bisikan dalam jiwa).”[17]

Dalam riwayat lain yang semakna, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah (tanda) kemurnian iman.”[18]

Dalam memahami hadits yang mulia ini ada dua pendapat dari para ulama:

-          Penolakan dan kebencian orang tersebut terhadap keburukan  yang dibisikkan oleh setan itulah tanda kemurnian iman dalam hatinya.

-          Adanya godaan dan bisikkan setan dalam jiwa manusia itulah  tanda kemurnian iman, karena setan ingin merusak iman orang tersebut  dengan godaannya.[19]

Adapun hati yang rusak dan kosong dari keimanan karena jauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala,  maka hati yang gelap ini terkesan “tenang” dan “aman” dari godaan  setan, karena hati ini telah dikuasai oleh setan, dan tidak mungkin  “pencuri akan mengganggu dan merampok di sarangnya sendiri”.

Inilah makna ucapan sahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma,  ketika ada yang mengatakan kepada beliau, “Sesungguhnya, orang-orang  Yahudi menyangka bahwa mereka tidak diganggu bisikan-bisikan (setan)  dalam shalat mereka.” Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma menjawab, “Apa yang dapat dikerjakan oleh setan pada hati yang telah hancur berantakan?”[20]

Nasehat dan penutup

 Tulisan ringkas ini semoga menjadi motivasi bagi  kaum muslimin untuk meyakini indahnya memahami dan mengamalkan petunjuk  Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang hanya dengan itulah seorang hamba bisa meraih kebahagiaan dan ketenangan jiwa yang hakiki dalam kehidupannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)[21] hidup bagimu.” (Qs. al-Anfaal: 24).

Imam Ibnul Qayyim – semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya – berkata, “(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang  bermanfaat (indah) hanyalah didapatkan dengan memenuhi seruan Allah dan  Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, barangsiapa yang  tidak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, maka dia tidak akan  merasakan kehidupan (yang bahagia dan indah)… Maka, kehidupan baik  (bahagia) yang hakiki adalah kehidupan seorang yang memenuhi seruan  Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin.”[22]

Sebagai penutup, akan kami kutip nasihat Syaikh Muhammad bin Jamil  Zainu yang berbunyi, “Wahai saudarakau sesama muslim, waspada dan  hindarilah (semua) bentuk zikir dan wirid bid’ah yang akan  menjerumuskanmu ke dalam jurang syirik (menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala). Berkomitmenlah dengan zikir (wirid) yang bersumber dari (petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang berbicara bukan dengan landasan hawa nafsu, (melainkan dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala). Dengan mengikuti (petunjuk) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, (kita akan meraih) hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keselamatan (di dunia dan akhirat). (Sebaliknya) dengan menyelisihi (petunjuk) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadikan amal perbuatan kita tertolak (tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa  yang mengerjakan suatu amalan (dalam agama Islam) yang tidak sesuai  dengan petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HSR. Muslim)[23].

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A

« Edit Terakhir: Disember 10, 2011, 01:07:43 pm oleh yusida »

yusida

  • Global Moderator
  • Hero Member
  • *****
  • Pos: 978
    • Lihat Profil
Per:DZIKIR & WIRID Penenang HATI
« Jawab #1 pada: November 03, 2012, 12:36:22 am »
10 Cara Bagaimana Untuk Mendapat Ketenangan Jiwa

Sahabat-sahabat para pembaca semua. Dalam artikel kali ini, saya ingin berkongsi dengan anda, 10 Cara Bagaimana Untuk Mendapat Ketenangan Jiwa, terutamanya khusus bagi mereka yang merasakan hidup mereka tidak tenteram dan tidak tenang.

Ketahuilah bahawa, agama kita, ISLAM ada memberikan ubat dan penawar dalam merawat ketenangan. Berikut adalah perkara-perkara atau langkah yang boleh dilakukan untuk mendapat ketenangan jiwa.



1. Membaca dan mendengarkan al-Quran
Suatu ketika seseorang datang kepada Ibnu Mas’ud, salah seorang sahabat utama Rasulullah. Dia mengeluh:
“Wahai Ibnu Mas’ud, nasihatilah aku dan berilah ubat bagi jiwaku yang gelisah ini. Seharian hidupku penuh dengan perasaan tidak tenteram, jiwa gelisah dan fikiranku kusut. Makan tak enak, tidur pun tidak nyenyak.”
Ibnu Mas’ud menjawab: “Kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat.
Pertama, tempat orang membaca al-Quran. Engkau baca al-Quran atau engkau dengar baik-baik orang yang membacanya.
Kedua, engkau pergi ke majlis pengajian yang mengingatkan hatimu kepada Allah.
Ketiga, engkau cari waktu dan tempat yang sunyi. Di sana, engkau bertafakur mengabdikan diri kepada Allah. Nasihat sahabat Nabi itu segera dilaksanakan orang itu.
Apabila sampai di rumah, segera dia berwuduk kemudian diambilnya al-Quran dan dibacanya dengan penuh khusyuk. Selesai membaca, dia mendapati hatinya bertambah tenteram dan jiwanya tenang, fikirannya segar, hidupnya terasa baik kembali.
Padahal, dia baru melaksanakan satu daripada tiga nasihat yang disampaikan sahabat Rasulullah itu.




2. Menyayangi orang miskin
Rasulullah memerintahkan kepada Muslim yang punya kelebihan harta untuk memberikan perhatian kepada orang miskin.
Ternyata, sikap dermawan itu boleh mendatangkan ketenangan jiwa. Mengapa? Dalam sebuah hadis menjelaskan bahawa malaikat selalu mendoakan orang yang dermawan:
“Setiap pagi hari dua malaikat senantiasa mendampingi setiap orang. Salah satunya mengucapkan doa: Ya Allah! Berikanlah balasan kepada orang yang berinfak. Dan malaikat yang kedua pun berdoa: Ya Allah! Berikanlah kepada orang yang kikir itu kebinasaan.”
Daripada hadis berkenaan dapat disimpulkan bahawa orang yang dermawan itu akan memperoleh dua balasan.
Pertama, dia mendapat ganjaran atas apa yang diberikannya kepada orang lain.
Kedua, mendapatkan limpahan ketenangan jiwa dan belas kasihan daripada Allah.



3. Melihat orang yang di bawah, jangan lihat ke atas
Ketenangan jiwa akan diperoleh jika kita senantiasa bersyukur atas segala pemberian Allah meskipun tampak sedikit.
Rasa syukur itu akan muncul apabila kita senantiasa melihat orang yang keadaannya lebih rendah daripada kita, baik dalam hal kebendaan, kesihatan, rupa, pekerjaan dan pemikiran.
Betapa banyak di dunia ini orang yang kurang beruntung. Rasa syukur itu selain mendatangkan ketenangan jiwa, juga ganjaran daripada Allah.



4. Menjaga silaturahim
Manusia adalah makhluk yang perlu menjalinkan hubungan yang baik dengan manusia lain. Pelbagai keperluan hidup takkan mungkin boleh diraih tanpa adanya bantuan daripada orang lain.
Dalam hadis Rasulullah diperintahkan untuk tetap menjalin silaturahim sekalipun terhadap orang yang melakukan permusuhan kepada kita. Rasulullah bersabda bahawa silaturahim dapat memanjangkan umur dan mendatangkan rezeki.
Hubungan yang baik di dalam keluarga, mahupun dengan tetangga akan menciptakan ketenangan, kedamaian dan kemesraan. Hubungan yang baik itu juga akan meleraikan sifat dengki, buruk sangka, iri hati, besar diri dan sebagainya.




5. Banyak mengucapkan “La hawla wa la quwwata illa billah“
Sumber ketenangan jiwa yang hakiki bersumber daripada Allah. Oleh itu, hendaklah kita selalu menghadirkan Allah dalam segala keadaan, baik dalam keadaan senang ataupun susah.
Kuatnya hubungan kita dengan Allah akan membuatkan jiwa seseorang itu menjadi kuat, tidak mudah goyah. Apabila kita lalai mengingati Allah, maka ia membuka peluang bagi syaitan mempengaruhi fikiran kita.



6. Mengatakan yang haq (benar) sekalipun pahit
Hidup ini harus dijaga agar senantiasa berada di atas jalan kebenaran. Kebenaran harus diperjuangkan.
Pelanggaran terhadap kebenaran akan mendatangkan kegelisahan. Ketenangan jiwa akan tercapai apabila kita tidak melanggar nilai kebenaran.
Sebaliknya, pelanggaran terhadap kebenaran akan berpengaruh terhadap ketenangan jiwa. Lihat saja orang yang kerap melakukan maksiat dalam hidupnya, mereka akan berasa gelisah walaupun nampak senang dan ceria.



7. Tidak ambil peduli terhadap celaan orang lain asalkan yang kita lakukan benar kerana Allah
Salah satu faktor yang membuat jiwa seseorang tidak tenang adalah kerana selalu mengikuti penilaian orang terhadap dirinya.
Seorang akan memiliki pendirian kuat jika berpegang kepada prinsip yang datang daripada Allah.




8. Tidak meminta kepada orang lain
“Tangan di atas (memberi) lebih mulia dari tangan di bawah” adalah hadis Rasulullah yang merangsang setiap mukmin untuk hidup berdikari.
Tidak bergantung dan meminta-minta kepada orang lain kerana orang yang berdikari jiwanya akan kuat dan sikapnya lebih berani dalam menghadapi kehidupan.
Sebaliknya, orang yang selalu meminta-minta menggambarkan jiwa yang lemah.



9. Menjauhi hutang
Dalam sebuah hadis, Rasulullah dengan tegas mengatakan:
“Janganlah engkau jadikan dirimu ketakutan setelah merasai ketenangan!”
Sahabat bertanya: “Bagaimana boleh terjadi seperti itu!”
Sabdanya: “Kerana hutang.”
Begitulah kenyataannya. Orang yang berhutang akan senantiasa dihantui ketakutan kerana dia dikejar-kejar untuk segera membayarnya.
Inilah salah satu faktor yang membuat ramai orang mengalami tekanan jiwa. Rasulullah juga mengatakan:
“Hendaklah kamu jauhi hutang kerana hutang itu menjadi beban fikiran di malam hari dan rasa rendah diri di siang hari.”



10. Selalu berfikir positif
Mengapa seseorang mudah berasa tertekan? Salah satu faktornya kerana dia selalu dibayangi fikiran negatif, selalu mencela dan menyesali kekurangan diri.
Padahal, kita diberikan Allah pelbagai kelebihan. Ubahlah fikiran negatif itu menjadi positif. Ubahlah ungkapan keluh kesah yang membuat muka berkerut, badan lemas, ubahlah dengan ungkapan senang.
Bukankah di sebalik kesulitan dan kegagalan itu ada hikmah yang boleh jadi pengajaran?


Sumber Rujukan : Tulisan Ustaz Mohd Zawawi Yusoh
« Edit Terakhir: November 03, 2012, 01:00:42 am oleh yusida »